Tawassul untuk Jalin Hubungan Ruhaniyah dengan Para Guru

 

Dalam beberapa hari mendatang, setelah shalat lima waktu, para santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, mendapat tambahan aktifitas baru. Para santri Sukorejo diajak untuk “berkomunikasi” dengan para masyayikh di alam barzah. Tujuannya untuk lebih meningkatkan jalinan hubungan ruhaniyah yang kian erat dengan para kiai pendiri, pengasuh pesantren, dan para guru.

 

Aktifitas baru itu, berupa tawassul. Tawassul ini dibaca oleh setiap santri. Setelah shalat lima waktu secara berjamaah dan wirid, sebelum berdoa; imam mempersilakan para santri untuk membaca tawassul sekitar semenit. Setelah selesai kemudian imam membaca doa.

tawasul baru copy

Bunyi tawassul tersebut, artinya demikian (teks Arabnya, silakan baca di gambar); “Wahai Tuhanku…melalui Nabi dan Utusan-Mu yaitu Nabi Muhammad SAW dan para kekasih-kekasih-Mu yang dekat dengan-Mu, para guru dan guru dari guru-guru kami; khususnya KHR. Syamsul Arifin, KHR. As’ad Syamsul Arifin, KHR. Ahmad Fawaid, dan KHR. Dhofir Munawwar; aku memohon agar Engkau menuntunku menuju jalan-Mu yang lurus (benar), aku memohon agar Engkau memberiku rizki berupa keimanan yang tulus, ilmu yang bermanfaat, amal yang Engkau terima dan rizki yang baik serta melimpah… (dapat ditambah dengan hajat yang lain).”

 

Teks tawassul tersebut berasal dari KH. Afifuddin Muhajir (wakil pengasuh bidang Ilmiah Pondok Sukorejo) atas permintaan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy. Tawassul tersebut terinspirasi dari kunjungan Kiai Azaim ke Ma’had Sulaimaniyah Turki beberapa hari yang lalu. Kiai Azaim tertarik dengan loyalitas dan kepatuhan para santri Sulaimaniyah kepada guru dan ma’hadnya. Dalam penilaian Kiai Azaim, salah satu rahasianya karena ma’had tersebut menerapkan tariqah naqshabandiyah dan setelah shalat terdapat tawassul kepada para guru.

 

Menurut Kiai Afifuddin, salah satu perbedaan pesantren dan perguruan tinggi di luar adalah soal jalinan ruhaniyah dan riyadhah. Riyadhah inilah salah satu kunci Pesantren Sukorejo tetap bertahan bahkan berkembang hingga sekarang.

 

Hal senada juga diungkap Kiai Ilyas Asembagus saat mengisi bedah buku “Wejangan Kiai As’ad dan Kiai Fawaid” yang diselenggarakan BEM Fakultas Dakwah tadi malam. Menurut ustadz senior Pondok Sukorejo tersebut, Kiai As’ad pernah mengibaratkan pondok pesantren sebagai ladang dan para santri seumpama bibit. Kalau ladangnya kurang subur dan ingin tanamannya tumbuh subur maka harus dipupuk. Pupuk dalam mencari ilmu tersebut berupa riyadhah.